Kamis, 28 Juni 2018

Perusahaan Sebesar Google Miliki Trik Menghemat Pengeluaran Pajak



Google bisa mengirit pengeluaran sedikitnya USD 3,7 miliar atau sekitar Rp 49,7 triliun untuk membayar pajaknya pada 2016.

Hal itu terjadi karena Google memindahkan pemasukannya sebesar 16 miliar euro antara Irlandia, Belanda, dan Bermuda. Ini adalah celah yang lazim digunakan perusahaan untuk mengurangi pengeluarannya untuk membayar pajak, yang kini celahnya sudah ditutup.

Teknik yang dilakukan Google ini lazim disebut sebagai Double Irish dan Dutch Sandwich, yang memanfaatkan celah di peraturan pajak luar negeri. Pada 2016, Google bahkan mengirit 7% lebih banyak ketimbang 2015, dengan besaran pajak 19,3%.

"Kami sudah membayar semua pajak untuk mengikuti aturan pajak di setiap negara tempat kami beroperasi di seluruh dunia. Kami juga terus berkomitmen untuk membantu pertumbuhan ekosistem online," tulis Google dalam pernyataannya.

Cara kerja teknik yang dilakukan Google ini adalah dengan menerima semua pemasukan dari iklannya di seluruh dunia ke perusahaan shell di Irlandia, yang kemudian pemasukan tersebut disimpan di perusahaannya di Belanda, demikian dikutip dari The Verge, Kamis (4/1/2018).

Kemudian dana tersebut dipindahkan ke perusahaan shell lain di Irlandia, yang secara fisik berlokasi di Bermuda. Di perusahaan terakhir inilah Google melaporkan dana-dana tersebut sebagai pemasukannya, yang menerapkan nilai pajak pemasukan korporat sebesar 0%.

Rabu, 20 Juni 2018

Munculnya Jaringan 5G Mungkin Akan Berdampak Pada Kesehatan Manusia


Menurut seorang pakar internasional, lebih banyak penelitian mengenai efek kesehatan potensial dari teknologi telepon seluler 5G terbaru diperlukan, sebelum teknologi itu diluncurkan di Australia.

Jaringan telepon seluler berkecepatan tinggi bisa beroperasi di Australia mulai tahun 2020, menawarkan rentang kapasitas hingga 50 kali yang kini tersedia di jaringan 4G, memungkinkan para pengguna mengunduh setara tiga episode televisi dalam sedetik.

Tahun lalu, perusahaan telekomunikasi Australia, Telstra, mengumumkan bahwa pihaknya akan menjalankan uji coba pertama di dunia dari teknologi itu untuk para pengunjung gelaran olahraga Commonwealth Games 2018 di Gold Coast.

Pakar frekuensi radio internasional Profesor Dariusz Leszczynski dari Universitas Helsinki dalam kuliah umum di Universitas Griffith, Brisbane pekan lalu (17/8/2017), memperingatkan mengenai kurangnya pemahaman tentang efek kesehatan.

"Kita hanya tahu bahwa radiasi ini menembus kulit terdalam. Kita tak tahu betul bagaimana kulit yang berfungsi normal akan terpengaruh," jelasnya.

Badan keamanan keselamatan radiasi Australia, Lembaga Perlindungan Radiasi dan Keselamatan Nuklir Australia (ARPANSA), telah mendukung seruan untuk memeriksa apakah standar keamanan radiasi negara tersebut perlu diubah untuk peluncuran 5G.

Penelitian yang dipublikasikan di situs lembaga tersebut mengatakan bahwa teknologi 5G bisa menembus kulit hingga kedalaman 8 milimeter.

Asisten direktur ARPANSA, Dr Ken Karipidis, mengatakan diperlukan lebih banyak penelitian.

"Pada frekuensi di mana 5G akan beroperasi, energi elektromagnetik RF tidak menembus lebih jauh dari permukaan kulit," kata Dr Karapidis.

"Dampak buruk kesehatan tak diperkirakan, dan Standar Australia yang berlaku saat ini tak menimbang hal ini."

"Namun demikian, penelitian lebih lanjut di bidang ini diperlukan, terutama pada efek terhadap kulit dan mata."

Karsinogen

Profesor Leszczynski adalah satu dari 30 pakar di tim penelitian internasional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2011 yang mengklasifikasikan semua emisi frekuensi radio sebagai kemungkinan karsinogen.

Namun ARPANSA mengatakan bahwa Standar Frekuensi Radio Australia, berdasarkan pedoman internasional, melindungi masyarakat dari bahaya.

Profesor Leszczynski mengatakan memeriksa dampak kesehatan setelah teknologi diluncurkan tidak cukup baik.

"Tampaknya, kita mengalami deja vu karena pada awal 1980an, kita berpikir bahwa teknologi pemancar berdaya rendah akan aman, tidak ada masalah," sebutnya.

"Tiga puluh tahun kemudian nampaknya itu mungkin bersifat karsinogenik."

ARPANSA mengatakan, menerima rekomendasi lembaga itu untuk mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai frekuensi 5G adalah keputusan masing-masing laboratorium penelitian universitas.

Juru bicara Telstra mengatakan, perusahaannya memastikan jaringan nirkabelnya sesuai dengan standar keamanan energi elektromagnetik Australia (EME).

"Kami mengandalkan saran ahli dari sejumlah otoritas kesehatan nasional dan internasional, termasuk ARPANSA dan Organisasi Kesehatan Dunia," kata juru bicara tersebut.

"Penelitian terhadap EME, telepon genggam dan kesehatan telah berlangsung selama bertahun-tahun.

"Frekuensi yang digunakan oleh 5G telah digunakan oleh aplikasi frekuensi radio lainnya seperti satelit dan radar selama beberapa dekade ... Jaringan nirkabel 5G dirancang untuk menjadi sangat efisien dan meminimalkan EME."

Jumat, 01 Juni 2018

Begini Caranya Jika iPhone Yang Anda Gunakan Mulai Lelet


Info penting bagi pengguna setia ponsel iPhone. Para pengguna iPhone model lawas, seperti iPhone 6, belakangan banyak mengeluh perangkatnya tiba-tiba berubah menjadi lambat usai memasang update sistem operasi dari Apple.

Pabrikan berlambang buah apel tergigit itu kemudian mengaku memang sengaja memperlambat kinerja model-model iPhone lawas tanpa memberitahukan para pengguna sehingga menimbulkan kebingungan.

“Kami tahu bahwa sebagian dari Anda merasa kecewa dengan Apple. Karena itu kami mohon maaf,” sebut Apple dalam sebuah keterangan tertulis yang dipublikasikan di penghujung 2017.

Namun untuk apa pula iPhone lawas sengaja diperlambat lewat update software? Menurut Apple, tujuannya adalah mencegah masalah ponsel mati mendadak, seperti yang kadang ditemui pada iPhone 6, iPhone 6 Plus, iPhone 6S, iPhone 6S plus, dan iPhone SE.

Masalah mati mendadak ini disebabkan oleh performa baterai yang menurun seiring bertambahnya umur perangkat. Nah, untuk mengkompensasi penurunan performa baterai itu, Apple lantas menurunkan kinerja perangkat secara keseluruhan.

Penurunan kinerja secara sengaja ini mulai diterapkan Apple dalam update iOS 10.2.1 yang dirilis kira-kira setahun lalu. Yang diturunkan kinerjanya adalah model-model iPhone di atas, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Cnet, Sabtu (30/12/2017).

“Respon konsumen terhadap iOS 10.2.1 positif, karena bisa mengurangi masalah mati mendadak. Kami kemudian menerapkan hal yang sama untuk iPhone 7 dan iPhone 7 Plus di iOS 11.2,” sebut Apple.

Cara mengatasi iPhone lemot


Meski demikian, tak semua pemilik iPhone setuju dengan kebijakan Apple itu karena penurunan kinerja perangkat sangat terasa.

Misalnya, seperti yang diungkapkan oleh developer software benchmark populer Geekbench, John Poole. Dalam sebuah posting blog, Poole mengungkapkan bahwa kinerja iPhone bisa terpangkas cukup jauh pasca-update.

Sebagian pengguna menuduh penurunan kinerja lewat update iOS adalah taktik Apple memaksa para pemilik iPhone lawas agar melakukan upgrade dengan membeli model iPhone terbaru.

Di Amerika Serikat, Apple sudah menghadapi setidaknya 8 gugatan class action dari para pemilik iPhone, terkait kinerja perangkat yang tiba-tiba melambat.

Para pemilik iPhone lawas ini sebenarnya tak perlu membeli perangkat baru, tapi cukup mengganti baterai dengan unit baru, seperti disebutkan oleh seorang pemilik iPhone 6 bernama @sam_siruomu di Twitter.







View image on TwitterView image on Twitter

So it's true Apple intentionally slow down old iPhones. Proof: My iPhone 6 was bought 3years ago and recently got really slow. APP 'CPU DasherX' shows iPhone CPU is under clocked running at 600MHz. After a iPhone battery replacement. CPU speed resumed to factory setting 1400MHz.

“iPhone 6 saya dibeli sekitar tiga tahun lalu dan belakangan jadi sangat pelan. Aplikasi ‘CPU DasherX’ menunjukkan CPU iPhone dikurangi kecepatannya jadi 600 MHz. Usai mengganti baterai, kecepatannya kembali ke angka semula di 1.400 MHz,” kicau @sam_siroumu dalam sebuah tweet.

Senada dengan @sam_siroumu, Poole dari Geekbench mengatakan bahwa iOS secara otomatis akan memperlambat kinerja iPhone begitu kondisi baterai turun melewati batas tertentu.

Bersama dengan permintaan maafnya, Apple pun memutuskan untuk memangkas harga unit baterai pengganti untuk iPhone, dari sebelumnya sebesar 79 dollar AS menjadi 29 dollar AS.

Potongan harga baterai itu berlaku untuk para pemilik iPhone 6 atau yang lebih baru, yang butuh baterai pengganti. Potongan harga mulai diterapkan pada akhir Januari 2018 mendatang dan akan berlaku hingga akhir Desember 2018.

“Pada awal 2018, kami juga akan merilis update iOS berisi fitur baru yang memungkinkan konsumen mengetahui kondisi baterai iPhone miliknya. Jadi mereka bisa tahu apakah kondisi baterai mempengaruhi kinerja perangkat,” kata Apple.