Rabu, 10 April 2019

Lemak Perut Buruk untuk Jantung dan Daya Otak

Lemak Perut Buruk untuk Jantung dan Daya Otak

Kita mengetahui bahwa tumpukan lemak di perut dapat  berisiko buruk untuk kesehatan jantung. Kini, studi terbaru menambahkan lemak di perut juga bisa berdampak buruk untuk otak kita.

Studi yang dilakukan ilmuwan dari Universitas Loughborough, Leicestershire, Inggris menemukan bahwa orang yang obesitas dan memiliki lemak perut, volume otaknya sedikit lebih kecil dibanding mereka dengan badan sehat.
Secara khusus, semakin banyak lemak perut maka volume materi abu-abu lebih kecil. Volume materi abu-abu adalah jaringan otak yang banyak mengandung sel saraf.

"Penelitian kami menemukan orang yang obesitas, khususnya memiliki lemak perut dapat dikaitkan dengan penyusutan otak," kata pemimpin studi Mark Hamer, dilansir Live Science, Rabu (9/1/2019).

Sementara itu, penyusutan otak telah dikaitkan dengan meningkatnya risiko penurunan memori dan demensia.

Studi yang terbit dalam jurnal Neurology, Rabu (9/1/2019), menunjukkan bahwa kombinasi obesitas (diukur dengan Indeks Massa Tubuh) dan rasio pinggang dan panggul yang besar dapat menjadi faktor risiko penyusutan otak.
Namun, studi ini hanya menemukan hubungan antara lemak perut dan volume otak yang menyusut.

Hamer dan timnya tidak membuktikan bahwa lebih banyak lemak di pinggang benar-benar menyebabkan penyusutan otak.

Bisa jadi orang dengan volume materi abu-abu yang kecil berisiko lebih tinggi mengalami obesitas. Untuk itu, ahli yang terlibat dalam studi ini menyarankan ada penelitian berkelanjutan.

Lemak berbahaya

Lemak perut yang juga disebut lemak visceral adalah lemak yang tersimpan jauh di dalam rongga perut.

Lemak perut memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap kesehatan, dibanding lemak subkutan atau lemak yang disimpan tepat di bawah kulit.

Menurut Mayo Clinic, studi sebelumnya telah mengaitkan lemak perut dengan risiko penyakit jantung yang lebih tinggi, termasuk serangan jantung dan stroke, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, dan kematian dini.

Beberapa penelitian sebelumnya juga menemukan hubungan antara lemak perut atau rasio pinggang dan panggul yang besar dengan volume otak yang lebih rendah. Namun studi sebelumnya tidak melihat efek gabungan dari Indeks Massa Tubuh dan rasio pinggang-panggul.

Di studi terbaru ini, para ahli menganalisis data yang melibatkan lebih dari 9.600 orang Inggris dengan usia rata-rata 55 tahun.

Para partisipan diukur Indeks Massa Tubuh dan rasio pinggang-panggulnya, serta menjalani tes MRI untuk mengukur volume otak.

Mereka menemukan bahwa orang dengan Indeks Massa Tubuh yang tinggi dan volume pinggang-panggul yang tinggi memiliki volume otak lebih rendah dibanding orang yang hanya memiliki Indeks Massa Tubuh tinggi dan orang sehat.

Berikut angka pasti yang ditemukan para ahli, orang dengan Indeks Massa Tubuh dan rasio pinggang-panggul tinggi volume materi abu-abu rata-rata berukuran 786 sentimeter kubik.

Orang dengan Indeks Massa Tubuh tinggi dan rasio pinggang-panggul rendah, volume otaknya 793 sentimeter kubik. Sedangkan orang yang sehat memiliki volume otak 798 sentimeter kubik.

Studi ini dilakukan setalah para ahli memperhitungkan faktor lain yang dapat memengaruhi volume otak termasuk usia, kebiasaan merokok, dan tekanan darah tinggi.

Meski studi ini tidak melihat mekanisme potensial yang menghubungkan lemak perut dengan penyusutan otak, ahli menduga apa yang dilihat dalam studinya disebabkan oleh zat inflamasi yang berperan dalam atrofi otak.

Ahli saraf dari Rumah Sakit Lenox Hill di New York, Gayatri Devi, yang tidak terlibat dalam penelitian mengaku setuju dengan studi terbaru ini.

"Penyusutan materi abu-abu otak tampaknya terkait dengan obesitas dan peningkatan lemak perut. Semua ini menunjukkan bahwa kesehatan pada umumnya sangat penting bagi kesehatan otak," kata Gayatri.

Para ahli mencatat studi mereka masih memiliki keterbatasan. Terlebih karena sebagian besar responden yang terlibat dalam penelitian adalah orang yang cenderung sehat. Sehingga hasilnya mungkin tidak berlaku untuk populasi secara umum.

Selasa, 02 April 2019

Ketahui Bakteri Jahat yang ada di Sepatu

Ketahui Bakteri Jahat yang ada di Sepatu

Kebiasaan kita melepas sepatu sebelum memasuki rumah mungkin adalah tindakan yang tepat demi kesehatan kita. Bagaimanapun, seperti benda lain sepatu juga menyimpan banyak bakteri.

Seorang ahli mikrobiologi lingkungan dari Universitas Arizona, Jonathan Sexton, menyebut bahwa ada ratusan ribu bakteri di setiap inci sepatu.

Gudang bakteri sepatu kita bisa jadi terletak di sol. Bagaimanapun, sol sepatu adalah media yang paling cepat bertemu dengan mikroba. Setiap kita melangkah, kita akan menjemput "penghuni" sepatu baru.

"Ke manapun Anda pergi, Anda akan mengangkutnya (bakteri)," kata Sexton.

Lantas, jenis bakteri apa yang ada di sepatu kita dan dapat mengancam kesehatan?

Melansir Live Science, Sabtu (5/1/2019), penelitan sebelumnya menunjukkan bahwa beberapa sampel sepatu (dalam studi) mengandung bakteri fekal yang menjadi indikator adanya pencemaran bakteri patogen dalam jumlah besar.

Dalam temuan tersebut ahli menemukan ada bakteri Escherichia coli (E. coli) sebanyak 96 persen di sol sepatu.

Beberapa jenis bakteri E. coli memang tidak membahayakan manusia. Namun ada beberapa jenis yang bisa menyebabkan bakteri parah, infeksi saluruan kemih, hingga meningitis.

"Kebanyakan sol sepatu mengandung beberapa jenis E. coli," sambung Sexton.
Sementara itu, temuan lain juga membuktikan adanya bakteri Staphylococcus aureus, jenis bakteri yang dapat memicu infeksi kulit dan yang mengkhawatirkan dapat menyebabkan infeksi darah dan jantung.

Studi terkemuka lain yang terbit 2014 dalam jurnal Anaerobe meneliti 30 sampel rumah di Houston, Texas, untuk mencari keberadaan bakteri Clostridium difficile (C. difficile) yang menyebabkan masalah usus seperti diare.

Dari semua barang rumah tangga yang diamati, peneliti menemukan bahwa sepatu menyimpan bakteri C. difficile paling banyak, melebihi yang ada di permukaan toilet.

Meski studi menemukan sol sepatu dipenuhi mikroba, para ahli mengatakan tidak ada yang terlalu dikhawatirkan.

Semua ahli menyatakan, bakteri dalam sepatu tidak cukup kuat untuk membuat orang sehat menjadi sakit.


"Untuk individu sehat, bakteri pada sepatu kemungkinan besar tidak meninggalkan risiko," kata Kevin Garey penulis studi yang meneliti keberadaan bakteri C. difficile dan merupakan profesor di Fakultas Farmasi Universitas Houston.

Sexton menambahkan, orang sehat perlu melakukan kontak dengan ribuan mikroba dalam satu strain bakteri berbahaya untuk benar-benar terinfeksi.

Selain itu, ancaman terbesar terletak di tanah. Namun dalam beberapa kasus, lapisan bakteri juga menyelimuti permukaan lantai.

"Jadi saya lebih khawatir pada bayi yang sedang belajar merangkak di lantai. Kalau kita orang dewasa yang sehat, hal ini bukanlah masalah besar," ujar Sexton.

Kelompok yang perlu melakukan pencegahan ekstra adalah mereka yang memiliki immunocompromised atau pertahanan diri dalam menghadapi infeksi lebih rendah dibanding orang lain.

"Seseorang yang berisiko terkena infeksi adalah mereka yang baru selesai menjalani perawatan di rumah sakit," ujar Garey.

"Singkatnya bila Anda berisiko terinfeksi atau memiliki anak kecil, sebaiknya Anda melepaskan sepatu di luar rumah," imbuh Garey.

Sexton berkata, mereka yang rentan terinfeksi bakteri sebaiknya tidak hanya melepaskan sepatu di luar rumah, tapi juga menjaga kebersihan rumah dan membersihkan debu yang menjadi makanan favorit bakteri. Hal tersebut bisa menjadi langkah pencegahan yang baik.

Kesimpulannya, bakteri sepatu tidak menimbulkan risiko langsung.

Kita juga perlu mengingat bahwa bakteri tidak hanya ada di sepatu, tetapi juga ada di udara, kulit, rambut, dan tubuh kita.

" Bakteri sehat yang ada di usus, kulit, dan tempat lain menjaga kita untuk tetap sehat dan melindungi dari bakteri jahat. Kita harus sadar, beberapa bakteri juga baik untuk kita," tukas Garey.